
Sebagai hadiah hiburan selanjutnya kami dapat susu kotak 125
mL yang dibagikan oleh koordinator 5R. Tanpa curiga jatah saya langsung saya
buka dan minum dan biasanya memang seperti itu....
Tetapi kemarin ada yang berbeda dengan susu yang saya
minum, rasanya kecut atau keasaman yang mengindikasikan susu sudah basi.
Singkat kata saya sempat muntah dan dihari berikutnya sakit perut. Padahal susu
tersebut masih tersegel dan belum expired!
Dari kasus ini saya tidak mempersalahkan minuman yang
saya minum ataupun menjadi anti terhadap produk tersebut. Karena teman-teman
saya tidak mengalami hal serupa dengan saya. Saya menyadari ini bagian dari
defect produksi yang lolos QC karena proses QC untuk mass production sifatnya sampling
size. Ditambah lagi pengalaman saya ketika belajar mikrobiologi, untuk proses
sterilisasi dan isolasi mikrob amat sangat susah. Dari proses isolasi tersebut
meskipun sample sudah kita tratment ditempat yang sangat steril dan terisolasi meskipun
secara visual kelihatanya sudah ok, ketika kita amati dibawah mikroskop tetap
saja ada kontaminan yang terbawa. Kendati demikan bukan berarti tidak mungkin
untuk mendapatkan biakan murni atau mendekati murni minimal lebih murni...
Dengan proses sterilisasi dan isolasi berulang dan berkelanjutan akhirnya kami
bisa dapatkan biakan murni dari sebuah golongan mikroba, ketika itu biakan yang
kami dapatkan adalah Saccharomyces cerevisiae yang merupakan mikroba kelompok
khamir.
Dari studi kasus ini ada sedikit pembelajaran yang dapat
saya petik, proses isolasi saya identikan dengan menutup aurat karena proses
ini dilakukan diruangan khusus dan tertutup sehingga hanya orong-orang tertentu
yang telah dizinkan dapat memasuki dan melihat atau kontak langsung dengan
objek tersebut. Proses ini dilakukan untuk mencegah masuknya kontaminan atau
pengaruh dan niatan tidak baik dari orang yang tidak bertanggung jawab atau
lingkungan sekitar. Sedemikan juga aurat harus senantiasa ditutup agar tidak
terlihat, terpengaruh dan menimbulkan niat tidak baik dari orang yang bukan
mahrom-nya.
Aurat yang tertutup atau berhijab khususnya wanita
belumlah jaminan atau parameter akhlak seseorang sudah baik jika tidak dilanjutkan
dengan treatment berikutnya. Sterilisasi merupakan proses treatment lanjutan terhadap
suatu objek untuk membunuh atau menghilakan bibit-bibit kontaminan yang
merupakaan bawaan atau sudah terbawa dari sample/objek tersebut. Artinya setelah
aurat atau fisik terlindungi, jiwa/rohani harus terus disucikan atau
dibersihkan dengan memberikan pelajaran atau nilai-nali syar’i untuk
membersihkan penyakit-penyakit hati yang merupakan bawaan dari manusia itu
sendiri. Proses sterilisasi dan isolasi berkelanjutan menunjukkan diperlukan-nya
keistiqomahan dan konsistensi didalam menjalankan aturan dan sistem dari aqidah
kita. Al-hasil meskipun didalam aktualisasinya masih akan kita dapatkan
kekurang bukan berarti kita membenarkan statement bahwa jilbab atau hijab bukan
jaminan... Minimal mereka yang telah berhijab sudah berusaha melakukan isolasi
diri/fisik tinggal dilanjutkan dengan
proses sterilisasi jiwa. Karena proses isolasi dan sterilisasi merupakan
satu kesatuan proses yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan.
0 komentar